Oleh: sugiarto | 9 Agustus 2010

kisah dua orang salesman..

Sewaktu pertama kali melamar pekerjaan sebagai salesman pada sepuluh tahun yang lalu,aku diterima oleh manager penjualan calon tempatku bekerja bersama satu calon salesman yang lain.Calon temanku ini berbadan besar dan sudah mengenyam pengalaman sebagai salesman selama 8 tahun di perusahaan sebelumnya.Sedangkan aku,baru sekali itu melamar kerja sebagai salesman setelah selama 6 tahun sebelumnya kuhabiskan waktu bekerja di Indomaret.Itu pekerjaan penjual pasif,kata calon bossku.Sedangkan kalau mau menjadi salesman harus mau menjadi penjual aktif.Menjemput bola.
Akhirnya untuk menutup wawancara hari itu,calon bosku itu bercerita tentang kisah dua orang salesman.Ceritanya begini:
Suatu hari sebuah perusahaan sepatu mengeluarkan model baru.Sales manager perusahaan itu memanggil dua orang salesmannya yang akan diberi tugas untuk mengintroduksi produk baru tersebut dimana untuk tahap awal produk ini akan diperkenalkan di desa desa terpencil untuk memperluas pangsa pasar dari “brand”produk sepatu tersebut.
Salesman pertama,yaitu salesman yang sudah berpengalaman dan tahu asam garam penjualan penjualan sepatu berkata,”Pak Manager,mana mungkin barang seperti ini kita jual di pedesaan.Orang desa itu terbiasa nyeker,kemana mana cukup telanjang kaki,mana mungkin kita tawari sepatu? Daripada buang buang waktu dan tenaga yang hasilnya kita sudah tahu pasti,mendingan batalkan saja rencana ini,dan bikin penawaran yang bagus untuk modern outlet yang sudah pasti bagus penjualannya!”
Kepada salesman yang anak baru,selanjutnya Pak Manager bertanya,”Bagaimana menurutmu salesman baru?Saya ingin tahu pendapatmu?”
“Menurut saya ini adalah peluang yang sangat bagus.”kata anak muda itu penuh semangat.”Karena di kampung saya itu,betul seperti kata mas gendut tadi bahwa orang belum terbiasa pakai sepatu,padahal pekerjaannya berat.Di sawah,ladang,bahkan di hutan.Tanpa alas kaki apa2 kan kaki mereka pasti sakit.Jadi kalau kita menawarkan sepatu di desa itu saya yakin akan laku keras,Pak!.Dan satu lagi kabar baiknya Pak,belum ada satupun kompetitor yang melakukan penawaran ini di desa itu”.
Akhirnya Pak Manager memutuskan untuk tetap melaunching produk baru tersebut di sebuah desa.Dengan semangat anak baru itu mengikuti tahap demi tahap pelatihan yang diberikan perusahaan.Bahkan untuk melengkapi pengetahuannya di bidang penjualan ia relakan separo dari penghasilannya untuk membeli buku buku pengembangan diri,dan ilmu marketing.
Sedangkan sales yang berpengalaman itu menerima keputusan itu dengan sangat kecewa.Mana mungkin bos barunya ini lebih mendengar anak baru yang masih nol pengalamannya,sedangkan dirinya yang punya “jam terbang”hampir sebanding dengan calon bosnya itu malah tidak didengarakan?Mungkin bosku ini memang kurang pinter,bloon,ngga ngerti apa.Atau anak baru itu pake guna guna kali.Bengsek!Meskipun kecewa dan sakit hati ,karena tidak ada pekerjaan lain salesman itu tetap bekerja dengan setengah hati.Meskipun tetap menyimpan sikap negatif dan mengeluh bahkan sampai tahun tahun setelahnya.
Apa pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah di atas?Sikap yang selalu terbuka dan positif,kemauan untuk belajar terus menerus,ditunjukkan oleh salesman baru yang masih bodoh.Mana mungkin menjual sepatu sama orang kampung?
Sedangkan salesman yang sudah kenyang pengalaman,karena merasasudah menguasai berbagai hal,ia merasa sudah tahu semuanya dan tidak perlu belajar lagi.Ini adalah kelemahan kita yang paling sering kita alami.Sikap kita terhadap anak seringkali seperti ini,bahwa kita pasti bener karena kita orang tua,dan “dia”pasti salah karena dia masih kecil.
Akhirnya waktu berlalu,dan kini kejadian itu sudah berlalu sepuluh tahun lamanya.Mari kita lihat hasilnya setelah sepuluh tahun,dengan dua sikap yang berbeda ini.Salesman senior kini bekerja di perusahaan farmasi sebagai salesman.Ini adalah kali keenam ia berpindah perusahaan semenjak cerita di atas bermula.Kepada salesman baru ia selalu membanggakan diri bahwa dia sudah berpengalaman menjadi salesman selama hampir 20 tahun.Sengajaia tidak ingin menjadi supervisor atau manager karena ia lebih suka menjadi orang bebas,tidak seperti manager yang harus tunduk pada aturan perusahaan.
Sedangkan salesman yang anak baru itu,hanya dua tahun menjadi salesman di perusahaan sepatu itu.Pada tahun ketiganya ia keluar,dan mendirikan perusahaan sendiri,dengan karyawan sbb:
1 orang direktur,dirinya sendiri.
1 orang manager,dirinya sendiri.
1 orang salesman,dirinya sendiri.
Intinya dia menjadi pekerja lepas yang mandiri(self employer).Kini setelah sepuluh tahun usaha anak itu telah berkembang jauh lebih baik dan mempunyai beberapa karyawan yang dambil dari sanak saudaranya di kampung.Menurutnya lebih baik mengurangi pencari kerja di mulai dari keluarga sendiri.
Meskipun begitu ia tetap terus belajar dan belajar untuk mengembangkan diri.Tapi sekarang dia tidak perlu membeli buku lagi,karena semuanya tersedia di internet.Baginya internet adalah perpustakaan yang amat sangat besar,mencari apapun ada.Bertanya apapun jawabnya ada,apalagi?
SEORANG SALESMAN YANG MENGAKU BERPENGALAMAN SELAMA 20 TAHUN,SEBETULNYA IA TIDAK PUNYA PENGALAMAN 20 TAHUN.TETAPI IA HANYA PUNYA PENGALAMAN 1 TAHUN,DAN DIULANG ULANG 20 KALI.DIA TIDAK PERNAH BELAJAR SESUATU…
Salam hangat dari Cikarang.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: