Oleh: sugiarto | 27 Agustus 2010

3×8=23

Pada suatu hari ketika Sang Murid sedang bertugas, dia melihat satu toko kain sedang dikerumuni banyak orang.
Dia mendekat dan mendapati pembeli dan penjual kain sedang berdebat.

Pembeli berteriak: “3×8 = 23, kenapa kamu bilang 24?”
Sang Murid mendekati pembeli kain dan berkata: “Sobat, 3×8 = 24, tidak usah diperdebatkan lagi.”
Pembeli kain tidak senang lalu menunjuk hidung Sang Murid dan berkata :
“Siapa minta pendapatmu ? Kalaupun mau minta pendapat mesti minta ke Sang Guru”

Sang Murid: “Baik, jika Sang Guru bilang kamu salah, bagaimana ?”
Pembeli kain: “Kalau Sang Guru bilang saya salah, kepalaku aku potong untukmu. Kalau kamu yang salah, bagaimana ?”

Sang Murid : “Kalau saya yang salah, jabatanku untukmu.”
Keduanya sepakat untuk bertaruh, lalu pergi mencari Sang Guru.

Setelah Sang Guru tahu duduk persoalannya, ia berkata kepada Sang Murid sambil tertawa: “3×8 = 23″,
Muridku, kamu kalah, berikan jabatanmu kepada dia.”

Sang Murid tidak akan berdebat dengan gurunya.
Ketika mendengar Sang Guru bilang dia salah, diturunkannya topinya lalu dia berikan kepada pembeli kain.
Orang itu mengambil topi Sang Murid dan berlalu dengan puas.

Walaupun Sang Murid menerima penilaian Sang Guru tapi hatinya tidak sependapat.
Dia merasa Sang Guru sudah tua dan pikun sehingga dia tidak mau lagi belajar darinya.
Sang Murid minta cuti dengan alasan urusan keluarga.
Sang Guru tahu isi hati Sang Murid dan memberi cuti padanya.

Sebelum berangkat, Sang Murid pamitan dan Sang Guru memintanya cepat kembali setelah urusannya selesai,
dan memberinya nasehat : “Bila hujan lebat, janganlah berteduh di bawah pohon.”
Sang Murid bilang baiklah lalu berangkat pulang.

Di dalam perjalanan tiba2 angin kencang disertai petir, kelihatannya sudah mau turun hujan lebat.
Sang Murid ingin berlindung di bawah pohon tapi tiba2 ingat nasehat Sang Guru
dan dalam hati berpikir untuk menuruti kata gurunya sekali lagi.
Dia meninggalkan pohon itu. Belum lama dia pergi, petir menyambar dan pohon itu hancur.
Sang Murid terkejut, nasehat gurunya terbukti.

Sang Murid kembali ke Sang Guru, berlutut dan berkata: “Guru, bagaimana guru tahu apa yang akan terjadi?”
Sang Guru berkata: “Kemarin hari sangatlah panas, diperkirakan akan turun hujan petir,
makanya guru mengingatkanmu untuk tidak berlindung dibawah pohon”.
Sang Murid berkata: “Guru, perkiraanmu hebat sekali, murid sangatlah kagum.”

Sang Guru bilang: “Aku tahu kamu minta cuti bukanlah karena urusan keluarga. Kamu tidak ingin belajar lagi dariku.
Cobalah kamu pikir. Kemarin guru bilang 3×8=23 adalah benar, kamu kalah dan kehilangan jabatanmu.
Tapi jikalau guru bilang 3×8=24 adalah benar, si pembeli kainlah yang kalah dan itu berarti akan hilang 1 nyawa.
Menurutmu, jabatanmu lebih penting atau kehilangan1 nyawa yang lebih penting?
3×8=24 hanyalah kebenaran matematis, 3×8=23 adalah kebenaran besar karena menyangkut nyawa manusia.”

Sang Murid sadar akan kesalahannya dan berkata :
“Guru mementingkan yang lebih utama, murid malah berpikir guru sudah tua dan pikun. Murid benar2 malu.”


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: