Oleh: sugiarto | 9 Agustus 2010

gumun ayu jamu…

Beberapa bulan kemarin kami sekeluarga sowan ke rumah om kami di bilangan Kebon Jeruk.Tidak dalam rangka apa2.Hanya sekedar silaturahmi semata.Ngobrol ngalor ngidul,becanda2,motesin tanaman yang bisa ditanam di rumah,ngrontoki belimbing wuluh yang tumbuh di halaman rumah dan sebagainya.
“Jamuuuuuuu!!!!”terdengar suara penjual jamu lewat di depan rumah.
“Bunda,jamu!!!”teriak putri kecilku.Anakku memang peminum jamu sejati.Sampe2 di rumahpun punya pelanggan jamu sendiri.Biasanya sih jamu buyung upik.Minumnya ga pake diseduh,tapi langsung di makan dalam bentuk serbuk.Sesekali di seduh juga.
Akhirnya kami semua ke depan,ikut menghampiri penjual jamu yang menjajakan dagangannya menggunakan sepeda ontel tua yang tampak terawat apik ini.Penjualnya seorang ibu,kisaran umur menjelang 50 tahunan.
“Dede mau jamu apa?”tanyanya ramah pada gadisku.
“Buyung upik rasa strawberi”jawab Adis lantang.
“Bude tidak ada buyung upik,kalo beras kencur,mau?”jawab si ayu jamu renyah.
“Mau!!”jawab Adis.
“Oke,Dede mau bungkusnya bentuk tangan apa kaki?”
“Apa aja,deh…eh,minta tangan aja!”
Dengan cekatan ayu jamu menarik2 selembar kantong plastik transparan,menuang beras kencur,dan..wallla,jadilah jamu dengan kemasan menyerupai tangan.
Sampai di sini aku terkesan dengan cara si ibu ini menjual jamunya.Suaranya renyah,ramah,hangat dan tau persis cara membuat anak2 menyukainya.Diam2 aku mengaguminya.Segelas jamu beras kencur cuma di jual seribu perak.Bahkan untuk kami berempat,duit goceng masih kembali seribu.Berapa kira2 omzet ibu ini kalaupun dagangannya habis terjual? Lima puluh ribu,seratus ribu?Atau dua ratus ribu?
Tetapi melihat sikapnya dalam melayani pembeli yang hangat,sepertinya jamu racikan sendiri yang hanya beberapa botol,dan sepeda onthel yang jauh dari bagus itu tak menghalangi semangatnya untuk menjajakan jamunya keliling2 kompleks perumahan.Tidak seperti penjual jamu yang biasa lewat di depan rumah yang hanya tinggal menyeduh jamu olahan pabrik,ayu jamu yang satu ini bener2 mengandalkan racikannya sendiri.
Juga melihat cara menyajikannya untuk anak2.Dibungkus plastik berbentuk tangan atau kaki.Juga cara menawarkannya yang ramah.Sejenak aku jadi ingat kalo lagi makan di Pizza Hut.Baru sampai di depan pintu masuk,kita sudah disambut oleh perempuan muda dengan dandanan yang eye cathcing dengan suara yang ramah pula.Masuk ke dalam,sebelum pesan menupun selalu ada tawaran seperti ini,
“Dede mau balon bentuk apa,panda atau dinosaurus?”
Sepertinya Pizza Hutt telah menyetandarkan layanan di seluruh gerainya.Penampilan pramuniaga yang ramah dan menarik,dan yang pasti kemampuan membentuk balon menjadi berbagai bentuk yang menarik untuk anak2.Hanya sentuhan kecil sebenarnya,tetapi sungguh berkesan.Dan untuk kesan yang menyenangkan itu,kita rela merogoh kantong lebih dalam untuk menikmati sepotong pizza yang harganya jauh lebih mahal dibanding kalau misalnya kita beli pinggir jalan.
Beberapa tahun belakangan,sentuhan sederhana ini juga diikuti peritel macam Alfamart dan Indomaret.Coba perhatikan kalau kita masuk ke Alfamart atau Indomaret.Sapaan selamat pagi,siang,sore atau malam pasti kita dapatkan.Bahkan waktu itu Alfamart pernah memberi kompensasi bagi konsumen yang tidak mendapatkan sapaan itu dengan sebungkus indomie.Yang akan membayar adalah kasir yang bertugas saat itu.Konsumen tinggal mengadukan ke nomor telefon yang tertera jelas di toko.Hal yang sama juga diikuti oleh Bank terbesar ke dua di Indonesia,BCA.Di setiap kantornya,BCA memasang tulisan untuk mengadukan karyawannya apabila ada karyawan yang mengecewakan dalam melayani nasabahnya.
Paradigma memberi lebih dari yang diinginkan pelanggan ini,kini mulai menjalar ke mana2.Dalam setiap lini bisnis.Yang dulu hanya dilakukan perusahaan2 penjual jasa,semacam hotel,tempat hang out dan sejenisnya.Bahkan ternyata si ayu2 jamu tadi,yang tanpa disadarinya juga telah menerapkan sistem pemasaran modern yang diterapkan oleh perusahaan multinasional sekelas Pizza Hutt.Bagaimana dengan perusahaan tempat anda bekerja?


Responses

  1. Menjadi maju karena mau mendengarkan harapan konsumen.
    dan kebetulan hari ini saya juga posting tentang revolusioner strategi yang berisikan materi meraih sukses dengan memelihara konsumen dan mendengarkan harapan mereka.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: