Oleh: sugiarto | 9 Agustus 2010

menjadi orang asing di rumah sendiri…

Suatu hari ada seorang teman mengajukan pertanyaan yang sebetulnya sudah umum,tetapi tetap menggelitik saya.Begini pertanyaannya,

“Mas Sugi,kenapa orang miskin semakin miskin,dan orang kaya semakin kaya?”

Dengan berlagak sok paham ekonomi,saya menjawab,

“Karena orang miskin tidak paham cara uang bekerja,mereka hidup pada saat ini,sehingga penghasilan hari ini mereka habiskan untuk hari ini.Mereka tidak paham cara berinvestasi untuk masa depan.Bahwa hidup bukan hanya untuk hari ini,tetapi juga besok dan seterusnya sehingga ada keharusan bagi kita menyisihkan sebagian penghasilan itu untuk kehidupan besok dan seterusnya juga,”kata saya agak menggebu.

Saya memang selalu antusias setiap kali membahas tentang kemiskinan dan kekayaan ini,apalagi mengenai hal hal yang berkaitan dengan merubah kebiasaan kebiasaan buruk sebagian besar kita tentang pengeloaan keuangan dan merubah taraf hidup seseorang.Bahasanya Robert Kiyosaki,merubah posisi di Cashflow Quadrant.

“Ada betulnya,tetapi begini Mas,saya punya pendapat bahwa dalam hal keuangan ini saya punya dua piramida yang berlawanan antara piramida orang miskin(orang kampung)dengan piramida orang kaya(orang kota/orang berpendidikan)”katanya.

“Mari kita lihat,orang kampung/pendidikan kurang,misalnya simbah buyut kita dulu,anaknya ada empat orang,punya tanah 10 hektar.Pada generasi kedua,simbah buyut ini mewariskan kekayaanya yang berupa tanah 10 hektar itu kepada kakek kita,sehingga setiap anak mendapat bagian 2.5 hektar.Masih cukup luas.Kakek kita memiliki anak masing masing 4 orang,yaitu bapak,pakde dan om kita.Terus bapak,pakde dan om kita itu memiliki anak anak lagi sebanyak 4 orang.Akhirnya tanah yang 2.5 hektar itu,dibagi empat lagi,setiap orang kebagian 0.6 hektar.Akhirnya kitapun memiliki anak lagi sebanyak 4 orang,kemudian kita mewariskan lagi kepada anak anak kita,sehingga setiap orang mendapatkan bagian 0.15 hektar,dan sampai pada cucu kita,atau pada generasi ke-5 dari buyut kita,tanah yang awalnya 10 hektar itu tinggal cukup untuk membuat gubug saja.Lalu ke mana kita bercocok tanam?Menjadi buruh tani,atau mengadu nasib ke kota,bekerja apa saja asal cukup untuk menghidupi keluarga.Berinvestasi untuk masa depan?Boro boro,menabung saja susah dalam kamus mereka.Jadi kalau kita buat piramidanya,dari atas besar,makin ke bawah makin kecil”.

Lalu dia menggambar piramida terbalik.

“Sekarang mari kita lihat,cara pandang orang kaya/orang yang berpendidikan cukup.Mereka tidak lagi percaya mitos,banyak anak banyak rezeki,karena mereka paham benar bahwa memiliki anak selalu ada konsekwensinya,pendidikan yang lebih baik daripada dirinya,taraf hidup yang lebih baik dan seterusnya.Jadi mereka tidak berencana untuk memiliki anak yang terlalu banyak.Dua anak cukup.Orang tua ini juga selalu berprinsip untuk memberi yang terbaik untuk anaknya,alih alih bercita cita ingin diurusi anaknya semasa tua,mereka sudah membekali diri untuk masa tuanya dengan asuransi dan sebagainya.Kepada anaknya dia selalu menekankan bahwa mereka harus bersekolah lebih tinggi dan hidup lebih sejatera daripada ayahnya.Jadi kalau ayahnya berpendidikan SD,dan berpenghasilan 500rb sebulan,ayahnya ingin agar anaknya bisa amat SMP,dan berpenghasilan 1 juta sebulan.Setelah anak ini dewasa,pola pikir inipun berlaku lagi.Ia akan menyekolahkan anaknya sampai SMU,sehingga dia bisa punya penghasilan 2 juta sebulan.Demikian pula seterusnya,sehingga pada generasi ke-5,sama seperti level generasi pada orang kampung diatas,generasi ini sudah memiliki tingkat pendidikan dan taraf hidup yang jauh lebih baik daripada kakek buyutnya.Mereka bukan menghabiskan sumber daya orang tua mereka,tetapi sebaliknya malah semakin menambah.Kalau dibuat piramida ya seperti piramida Mesir,bukan piramida terbalik.”

Penjelasan dua piramida versi teman saya itu,benar benar meresap di otak saya.Sebetulnya tidak ada yang istimewa sih,hanya saja kok saya tidak pernah menyadarinya.Sekarang mari kita lihat di sekeliling kita,berapa banyak diantara orang orang asli kampung Betawi yang semakin terpinggirkan dengan adanya”kemajuan”di wilayahnya.Mentang mentang punya tanah,mereka tidak pernah berpikir bahwa tanpa pengeloaan yang benar,aset mereka akan semakin habis.Mereka menjual kebon untuk membeli motor.Begitu sawahnya digusur untuk pembangunan mall,mereka membeli mobil,ingin memiliki BlackBerry yang mereka sendiri tidak paham gunanya(karena tahunya hp adalah untuk sms dan nelpon) mereka jual satu petak rumah kontrakan warisan dari orang tuanya.Nah tidak perlu sampai pada generasi ke-5 seperti yang terjadi pada ilustrasi di atas,mereka sudah kaget dan terbengong bengong.Kebun rambutan yang dulu luas,telah berubah menjadi mall,sawah orang tuanya yang dulu menghasilkan padi,kini sudah berubah menjadi perumahan mewah,dan rumah kontrakan yang dulu berjejer kini sudah dibeli oleh Mas Broto si tukang mie ayam yang tadinya menyewa dan bayarnya selalu telat.Kini dia tidak punya sawah,kebun,ataupun kontrakan.Mobil sudah pula terjual karena sering mogok dan ia tak sanggup lagi membiayai servisnya.Tinggal sepeda motor yang angsurannyapun sudah menunggak tiga bulan.Kalau bulan ini tidak bayar,alamat bakal dicabut dealer.Mau cari pinjaman untuk membayar angsuran pada Mas Broto,tidak mungkin lagi,karena rumah petak yang biasa dipakai untuk agunan sudah habis semua.Malahan kini ia mengontrak sama si Mas Broto,dan sudah dua bulan pula belum bayar.

Untuk membiayai hidup keluarganya,teman kita yang asli Betawi inipun,menjadi tukang ojek dengan sewa motor harian.Pada malam hari,dia bekerja sebagai kuli panggul di pasar,untuk membongkar truk truk pengangkut sayur dan buah buahan.Sungguh malang,di usia yang semakin tua,kebutuhan semakin besar,karena anak anak semakin besar pula,dan dia harus bekerja ekstra keras lagi dan lagi.Benar benar dunia ini tidak adil,para pendatang seperti Mas Broto ini tidak adil,pekiknya dalam hati.Tetapi benarkah demikian?Bukankah kesejahteraan dan kemakmuran itu hak setiap orang?Baik pendatang seperti Mas Broto maupun warga “asli”seperti dirinya?Lalu di mana letak kesalahannya?

Dalam bukunya Rich Dad Poor Dad,Robert Kiyosaki menekankan arti pentingnya “melek finansial”,yaitu memahami cara uang bekerja,membedakan antara menabung dan berinvestasi,ataupun berinvestasi dan berjudi serta membedakan aset dan kewajiban.Dan dalam buku The Cashflow Quadrant,Robert menjelaskan tentang empat kuadran manusia dalam mencari uang/kekayaan,yaitu E(Employer/Pekerja),S(Self Employer/Pekerja lepas/pekerja mandiri),B(Bisnisman),dan I(Investor).Terlepas di posisi kuadran manapun kita pada saat ini,ketrampilan mengelola keuangan dan melek finansial ini menjadi sangat penting.Dengan memahami mana aset dan kewajiban,mestinya teman kita yang orang Betawi tadi tidak perlu menjadi orang asing di kampungnya sendiri.Terlebih di rumahnya sendiri.Karena perbedaan keduanya sangat jelas,aset adalah sesuatu yang memasukkan uang ke kantong kita,sedangkan kewajiban adalah sesuatu yang mengeluarkan uang dari kantong kita.Kalau saja dia pahami ini,dan berkonsentrasi membangun asetnya,pada saat kebunnya digusur untuk pembangunan mall,dia tidak akan menghabiskan uangnya untuk membeli mobil yang tiap bulan menimbulkan pengeluaran untuk servis,bensin,dan lain lain.Mungkin dia bisa membeli lagi tanah untuk kontrakan di daerah pinggir kota yang lebih murah dan pada akhirnya tetap menghasilkan uang.

Atau pada saat sawahnya digusur untuk pembangunan rumah mewah,mungkin uangnya bisa dia belikan sepeda motor yang banyak dan disewakan pada para tukang ojek,sehingga tetap menghasilkan uang.Bisa juga dia belikan mobil,tetapi bukan untuk dipajang di rumah,tetapi disewakan untuk angkutan karyawan,sehingga tetap menghasilkan uang.Memang di era konsumtif seperti saat ini,selalu ada godaan dari dalam diri kita untuk tampil “wah”dan”layak”,di mata orang lain.Tetapi kalau kita mau sedikit saja bersabar dengan menunda kesenangan itu,percayalah dalam lima atau sepuluh tahun,hasil akhirnya akan sangat jauh berbeda.Teman kita itu mungkin akan bisa membeli properti mahal,di perumahan bekas sawahnya tadi,atau paling tidak di kelas yang sedikit di bawahnya,dan tidak mengontrak pada Mas Broto si juragan mie ayam.Dan dia tidak akan menjadi “penonton kemajuan”di kampungnya sendiri.Dan menjadi orang asing di rumahnya sendiri.

Salam Sukses,

Sugiarto


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: