Oleh: sugiarto | 9 Agustus 2010

gumun anak ayam..

Suatu ketika beberapa taun yang lalu ketika usia anakku baru sekitar dua taunan,dia begitu ingin sekali dibelikan anak ayam yang dijajakan abang2 yang suka lewat depan rumah.Sekali dia minta,aku tidak mau membelikannya.Tapi setiap hari si abang itu selalu lewat.Dan anakku selalu minta dibelikan.Pada akhirnya aku mengalah,dan kubelikan seekor anak ayam yang kira2 baru berumur satu minggu itu.
Dengan mata berbinar2 Adis menerima anak ayam itu.Dia begitu gembiranya melihat anak ayam yang berbulu kuning keemasan,berparuh kuning tua dan kakinya agak orange itu.Dikasih makannya banyak2,dipegang2 kepalanya,diajak ngomong(meski bahasa dia sendiri belum terlalu jelas).Dia kelihatan begitu bersemangat.Tapi mungkin karena saking gembiranya,dia suka memegang anak ayam itu terlalu erat,sehingga tidak sampai dua hari anak ayam itu mati.
Beberapa waktu kemudian,dagangan si abang berubah.Kali ini dia membawa burung2 kecil yang bulunya dicat warna warni,lengkap dengan sangkarnya yang terbuat dari kawat nyamuk membulat berdiameter kurang lebih 15cm.Si Adis kembali merengek minta dibelikan.Memang kreatif betul si abang ini dalam menarik perhatian anak2 kecil.Tetapi untuk kali ini,aku ingin memberi anakku satu pelajaran.Aku tetap membelikan burung berbulu warna warni itu.Tetapi aku mencoba memberi pengertian pada anankku bahwa habitat burung adalah di alam bebas.Bukan di dalam sangkar.Maka aku membujuknya agar melepas burung itu agar bisa bebas terbang ke mana ia suka.Adisku menolak.Dia tidak mau melepasnya.Dia begitu menikmati keindahan bulu burung berwarna bo’ongan itu.
Keesokan harinya sepulang bekerja,Adis menyambutku dan dengan bangganya bercerita bahwa burung berbulu indahnya telah dilepaskan.Dia sendiri yang melepas diantar keponakanku di tanah kosong dekat kompleks perumahan kami.Aku lega.Akhirnya burung mungil itu tidak jadi mati,seperti anak ayam berbulu kuning keemasan tempo hari.Dan yang lebih membanggakan,anakku telah belajar sesuatu.Dengan melepas burung mungil itu,berarti dia mulai memahami bahwa semestinya burung hidup di alam bebas.Bukan di dalam sangkar.
Dalam kehidupan sehari2,seringkali kita terjebak dengan sikap terlalu “sayang” atau terlalu “bersemangat” seperti sikap anakku pada anak ayam mungil pertamanya.Dengan alasan menyayangi putra putri kita,kita memagari mereka untuk tidak boleh ini,tidak boleh itu.Dengan alasan mencintai istri,kita penjarain istri kita dengan tidak boleh melakukan ini,tidak boleh melakukan itu.Bahkan kadang kita juga melarang tidak boleh berteman dengan si ini,si itu.Dengan alasan menjaga kehormatan suami,istri2 kadang memaksa suami harus berpakain ini,berpakain itu,makan ini,makan itu….Begitu banyak alasan kita untuk memaksakan sesuatu di luar kita agar persis seperti yang kita mau.Bukan seperti yang mereka mau.
Mencintai,menyayangi…atau apalah namanya terhadap seseorang(apakah itu anak,istri ataupun suami)adalah membiarkan mereka bertumbuh sesuai keinginan mereka.Kita semua diciptakan sebagai pribadi2 yang unik.Kata guru Biologi saya dulu,hanya ada kemungkinan sepersekian milyar dari kita semua yang benar2 mempunyai kesamaan identik.Artinya sama persis,pleg!!Jadi,mengapa kita harus memaksakan diri merubah sesuatu di luar kita agar sama persis yang kita mau?Orang pintar bilang,kalau kita memaksa seseorang menjadi sama dengan kita,dunia ini tidak akan indah.Karena pada akhirnya kita hanya melihat pantulan pribadi kita pada semua orang.Pada anak,istri,suami atau bahkan pacar.
Mencintai,menyayangi..atau apalah namanya itu adalah proses belajar.Proses pendewasaan.Dan kedua proses ini adalah kewajiban seumur hidup.Membiarkan orang2 di sekitar kita untuk bertumbuh dan berkembang sesuai pribadi mereka,sesuai minat mereka,sesuai cita2 mereka adalah keniscayaan.Karena kalau tidak kita hanya akan menciptakan tirani yang menyiksa mereka,dan kita tidak akan mendapatkan apa2 selain stempel DIKTATOR.Anak saya telah belajar melepas burung mungil yang sangat disukainya….sekaranglah giliran kita.Salam hangat dari Cikarang.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: