Oleh: sugiarto | 9 Agustus 2010

gumun sahabat pena..

Sewaktu duduk di bangku kelas 3 SMP,saya mempunyai seorang sahabat pena.Bagi yang belum tau,sahabat pena adalah teman yang hanya berkomunikasi lewat surat,tanpa pernah bertemu sebelumnya.Sama dengan teman di dunia maya jaman sekarang.Hanya bedanya,berteman lewat surat ini jauh lebih ribet.Minggu ini kita kirim surat misalnya,minggu depan mungkin baru sampai karena jaraknya yang jauh di luar kota.Minggu depan dia balas,minggu ketiga baru balasannya kita terima.Masa2 menunggu balasan inilah yang membuat kita merasa seperti disiksa.Setiap kali pak pos datang ke sekolah mengantar surat,saya selalu berharap ada surat untuk saya.Deg2an.Salah tingkah.Membuat perut terkadang mules.Persahabatan ini berlanjut sampai di SMA.Setiap dua tiga minggu sekali,aku menulis surat dan menerima balasannya.Beberapa kali dia kirim poto juga.Senang rasanya melihat poto seseorang yang tidak pernah kita kenal sebelumnya,dan bisa ngobrolin tentang berbagai hal sehingga kami merasa dekat.Dekat dalam arti yang sebenarnya,loh…bukan pacaran.
Perkenalan kami waktu itu dipicu dari Radio.Iya,dari radio.Kebetulan waktu itu saya suka mengirim tulisan2,baik puisi maupun cerita pendek ke sebuah stasiun radio yang memang memiliki acara pembacaan puisi dan cerpen setiap Sabtu sore.Tidak ada honornya buat kita.Paling2 cuma boleh senggol nama teman2 dan meminta diputarkan sebuah lagu.Itupun rasanya sudah senang sekali.Kebetulan juga,ada seseorang di kota yang jauh dari kota tempat saya tinggal,turut mendengarkan acara itu.Dan rupanya dia menyukai tulisan2 saya.Hingga akhirnya pada suatu hari(kayak dongeng aja ada pada suatu hari),saya menerima surat darinya.Dalam suratnya dia memperkenalkan diri bernama si anu,dan mengatakan bahwa dia sering mendengarkan puisi atau cerita pendek saya dibacakan.Dia menyukai tulisan saya,dan ingin bisa bersahabat dengan saya,katanya.Hati saya gembira sekali.Mendapatkan apresiasi dari seseorang yang jauh,yang benar2 tidak saya kenal sebelumnya.Keesokan harinya langsung saya balas suratnya,dan mulailah kami bersahabat pena.
Beberapa bulan kemudian,saya menerima surat yang sama dari orang yang berbeda,juga kota yang berbeda.Yang kedua inipun sama, menyukai tulisan2 saya.
Kamipun menjalin persahabatan lewat surat,dan jadilah saya memiliki dua orang sahabat pena.
Persahabatan saya dengan kedua orang ini berlanjut,dari kelas 3 SMP,kelas 1 SMA,hingga kelas 2.Banyak hal kami bicarakan dalam korespondensi kami.Tentang sekolah,keluarga,kadang2 keluhan dan curahan hati.Kadang2 mereka bertanya tentang hal2 yang saya belum kuasai,dan sebelum membalas suratnya,biasanya saya bertanya dulu pada teman yang lebih dewasa agar bisa memberi jawaban yang menyenangkan buat mereka.Pokoknya saya berusaha semaksimal mungkin untuk menjadi teman yang baik bagi mereka.Memasuki kelas 3 SMA,kami semua mulai sibuk dengan urusan sekolah.Dan kami semakin jarang menulis surat,hingga akhirnya sama sekali melupakan semuanya.
Bagi anak2 sekarang mungkin cerita saya diatas sudah basi.Tetapi memang hanya itulah yang bisa kami lakukan saat itu untuk menjalin persahabatan dengan orang yang tinggalnya jauh dari kita.Dengan menulis surat.Karena memang hanya itulah sarana komunikasi yang tersedia saat itu.Belum ada pesbuk,email,handphone dan lain lain.Manusia pada dasarnya sama.Di jaman manapun.Sebagai makhluk sosial,manusia ingin berinteraksi dengan manusia lain dengan sarana komunikasi yang tersedia.Dan saat itu,yang tersedia bagi kami hanyalah surat menyurat.Hingga setiap orang yang seangkatan saya saat itu,pasti punya,setidaknya pernahlah membeli buku kertas surat yang bermacam2 modelnya.Par Avion Air Mail untuk surat biasa(artinya digunakan untuk menulis surat biasa seperti kakak,orang tua dan yang lain),atau kertas surat ABG yang berbau harum,ada yang berwarna pink,biru,ada juga kertas surat dengan hiasan kartun.Apalagi kalau cewek.Cantik lagi.Pasti dan harus punya salah satu kertas surat kertas surat yang saya sebutkan tadi.Karena sebagai cewek cantik,bisa dipastikan akan banyak menerima surat pernyataan cinta,minimal surat ajakan berteman dari cowok2.
Kini dengan adanya facebook,rasanya aneh kalo kita mesti berpegal2 tangan menulis surat.Apa yang kita ingin bicarakan,bisa langsung kita tulis di wallnya,kalau yang kita bicarakan layak dibaca orang.Ingin lebih private,tulis di inbox.Kita tinggal utarakan yang kita inginkan,dan nanti pada saat dia online,dia bisa langsung tanggapi.Bahkan kalau kebetulan orang yang kita tuju sedang online juga,kita bisa langsung ngobrol lewat chating.Dan untuk kesemuanya itu,tidak perlu harus tersedia komputer.Dengan hape seharga 300rb dan koneksi internet,jadilah…
Facebook telah menjawab kebutuhan kita sebagai makhluk sosial yang selalu ingin berinteraksi dengan orang lain secara mudah,cepat dan murah.Untuk menyebarkan tulisan yang bisa dinikmati orang lainpun jauh lebih mudah.Kalau dulu saya harus menulisnya di kertas folio dengan tulisan tangan yang rapi(maklum,saat itu saya tidak punya,juga tidak bisa mengetik),melipat ke amplop,menempeli perangko,menitip ke pak pos yang seminggu dua kali datang ke sekolah,menunggu jadwal antre di radio hingga gilirannya dibacakan dan beberapa minggu kemudian baru saya terima surat dari sahabat pena yang mengomentari tulisan saya….sekarang kita tinggal tulis note di facebook,terbitkan dan saat itu juga teman2 kita bisa langsung memberi komentar.Cepat,mudah,murah.Ga perlu perangko.Ga perlu deg2an di dekat radio,yang cuma radio AM,yang suaranya grodog2,apalagi kalau cuaca mendung.Mending kalau orang tua ga ada,kalau ortu lagi ada di rumah,cuaca mendung dan kita nyetel radio,pastilah kena omelan.Karena ya itu tadi,suaranya grodog2 mengerikan.Jauh berbeda dengan radio FM jaman sekarang.Itupun orang mendengar radio paling kalau dalam perjalanan.Menemani macet,sekaligus memperoleh informasi lalu lintas.
Facebook memungkinkan kita menjadi self publisher bagi karya2 kita sendiri.Apapun yang kita ingin tulis,entah puisi,cerita pendek,cerita panjang,analisa tentang berbagai hal menurut sudut pandang kita sendiri,opini kita mengenai suatu peristiwa dan sebagainya,bisa langsung kita tulis dan sebarkan ke seluruh penjuru dunia.Kita tidak memerlukan editor untuk meneliti,mengoreksi dan mengedit tulisan kita.Gagasan kita.Pendapat kita.Opini kita.Kita bener2 bisa menjadi penulis,bahkan jurnalis yang merdeka.Karena kitalah yang punya penerbit.Sekaligus percetakannya.
Tetapi seperti hukum alam yang lain,kebebasan yang besar,selalu menuntut tanggung jawab yang besar pula.Dalam mempublish tulisanpun sama.Kita dituntut untuk bertanggung jawab atas kontent dari tulisan kita.Apakah layak dibaca umum,apakah menyinggung SARA,apakah tulisan kita tidak akan menyakiti seseorang…atau,apabila kita mengcopy tulisan orang lain sudahkah kita cantumkan sumbernya?Semua ini berpulang pada pribadi kita masing2,untuk bertanggung jawab atas diri kita sendiri.Karena dalam semua bentuk pergaulan,esensinya sama.Kita ingin dihargai dan dihormati orang lain.Dan biasanya,sebelum mendapatkan penghargaan itu,kita dituntut untuk menghargai dan menghormati orang lain terlebih dahulu.Jadi pilih mana,menjadi anak yang duduk sendiri di dalam kelas pada saat istirahat,atau ikut berbaur dengan yang lain bermain bola di halaman sekolah?Meskipun cuma di dunia maya.Salam hangat dari Cikarang….(10/06/2010)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: