Oleh: sugiarto | 9 Agustus 2010

gumun gobag sodor…

Rubrik komunitas tabloid Kontan edisi minggu ini mengupas tentang kiprah komunitas Hong di Bandung yang nguri2 permainan rakyat jaman dulu untuk kembali diperkenalkan kepada masyarakat jaman sekarang.Ada banyak permainan yang dilestarikan.Kebanyakan dari Jawa Barat.Ada gobak sodor,ada egrang,congklak dan lain2.Tidak hanya memperkenalkannya kembali,mereka juga menyediakan lahan seluas 500m persegi untuk arena bermain.Pesertanya juga tidak terbatas anak2 saja,remaja,orang tua,bahkan manula berusia 75 taunpun ada.Anggota komunitasnya berasal dari beragam profesi.Dari ibu rumah tangga,guru,sampai mentri.Pokoknya yang merasa kangen mainan waktu kecil,atau yang masa kecilnya kurang bahagia,bisa ikut bermain di sini. Gobak sodor.Permainan ini adalah permainan favorit saya waktu SD.Tiap kali istirahat sekolah,kami selalu memainkannya.Permainan ini melatih anak2 untuk bermain sebagai tim.Misalnya kita semua ada 8 atau 10 orang,kita bagi dua.Jadi masing2 tim berisi 4 atau 5 orang.Salah satu(biasanya kita anggap sebagai kapten tim) suit dengan tim lawan.Yang kalah pertama kali jaga.Sedang tim yang menang suit,berperan sebagai tim penyerang untuk bisa masuk ke kandang lawan tanpa tersentuh tangan tim penjaga.Tugas membobol pertahanan lawan inilah yang memerlukan kerjasama antar anggota tim penyerang. Permainan ini rutin kami lakukan setiap istirahat sekolah.Sampai2 rumput di halaman sekolah itu membentuk garis2 pertahanan kotak2 karena saking seringnya diinjak2 dan mati mengering.Selain melatih anak2 bermain dalam tim work tanpa di sadari,yang pasti kami jadi lebih sehat karena berkeringat.Ya pastilah,siang2 bermain kejar2an begitu.Kadang2 guru kami marah2 karena begitu masuk kelas,kita semua masih bermandi keringat. Saking sukanya permainan ini,saya tidak hanya memainkannya di sekolah.Bahkan waktu ngangon kambing sepulang sekolahpun,kalo temannya ada 4 orang atau lebih,kami bermain gobak sodor lagi.Saking asyiknya bermain,seringkali kambing yang digembalain makan tanaman orang dan kami semua kena omelan yang punya tanaman. Saat2 ngangon kambing sepulang sekolah ini permainan kami sebetulnya lebih beragam.Tergantung seberapa banyak anak yang ngumpul,dan kesepakatan semuanya.Kadang bermain gobak sodor.Kadang bermain egrang.Egrang adalah permainan yang menuntut keseimbangan tubuh.Kami membuatnya dari dua batang bambu sepanjang kurang lebih 2 atau 2.5 meter.Setengah meter paling bawah dicoak untuk di pasang kayu atau bilah daun kelapa,dan diberi penopang kayu sampai ujung bambu paling bawah.Tidak perlu paku kalau pakai bilah daun kelapa.Biar seru,biasanya kami balapan naik egrang.Permainan ini mengandalkan ketrampilan individu.Yang paling jago dan tidak pernah jatuh,keluar jadi pemenang.Hadiahnya,digendong oleh yang berada diurutan paling belakang,sejauh jarak balapan tadi.Karena waktu itu saya anak paling kecil,seringnya saya kalah dan harus menggendong anak yang lebih besar yang selalu menang balapan tadi.Sedang yang lainnya ramai menyoraki.Capek,sih…Tetapi tetap menyenangkan. Permainan kami yang lain sembari ngangon kambing adalah “benthik”.Permainan ini menggunakan dua batang kayu,satu panjang satu pendek.Ada beberapa tahap dalam memainkan permainan ini.Mulai dari tahap paling mudah,berlomba mencuthik batang kayu pendek dengan batang yang panjang(yang bisa mencuthik paling jauh keluar sebagai pemenang),hingga yang paling rumit..menjatuhkan batang yang pendek lalu memukulnya dengan batang yang panjang.Sebetulnya permainan ini agak berbahaya,karena bisa saja kayu yang dipukul itu mengenai jidat orang.Tapi dasar anak2… Permainan saya yang lain sambil ngangon kambing adalah,membuat wayang2an dari kembang suket(rumput).Saya sudah lupa caranya,tetapi yang pasti adalah awalnya kami mengumpulkan kembang suket tertentu(dipilih yang agak panjang),kemudian dianyam hingga berbentuk seperti tokoh kresna dalam wayang kulit.Asyiknya ga kalah,loh..kalo dibanding dengan seni melipat kertas/origami,he..he..origaminya cah angon!! Setelah berbentuk wayang,masing2 anak memegang wayang bikinannya dan memainkan tokoh masing2 dengan dialog.Setelah berdialog2,biasanya trus berperang.Saat adegan perang inilah biasanya kita melupakan wayang yang telah dibuat dan akhirnya malah kami,para dalangnya yang berperang beneran.Bergulung2an di rerumputan(oro2 tempat kami ngangon)..bergulat..dan kadang diakhiri dengan tangis salah satu anak,ha..ha… Ah,saya jadi kangen dengan suasana ngangon kambing dulu.Saya ga tau,apakah anak2 sekarang di kampung saya masih melakukannya.Tetapi bagi saya dulu,ngangon kambing di oro2 di sore hari…apalagi harinya cerah…sungguh saat2 yang membahagiakan…..(Nulisnya lagi kurang mood,tapi tetap….Salam hangat dari Cikarang(14/07/2010).


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: